Review Talkshow Hari Pendidikan Nasional 2016 “Melakukan Fundraising Kreatif untuk Lembaga Nirlaba"
Dalam dunia pendidikan, siapa yang tidak mengenal sosok yang bernama Ki Hajar Dewantara?.
Beliau adalah pahlawan nasional yang dihormati sebagai bapak pendidikan nasional di Indonesia. Sebutan itu didapatkan karena peran beliau yang telah berjuang keras untuk memajukan pendidikan di Indonesia. Beliau berani menentang kebijakan pendidikan pemerintah Hindia Belanda pada masa itu, yang hanya memperbolehkan anak-anak kelahiran Belanda atau orang kaya yang bisa mengenyam bangku pendidikan. Kemudian beliau mendirikan lembaga pendidikan untuk rakyat biasa yang bernama Taman Siswa, dengan semboyannya “Ing Ngarsa Sung Tuladha. Ing Madya Mangun Karsa. Tut Wuri Handayani”. Berdasarkan kutipan pidato dari bapak Ir. Soekarno di Peringatan Hari Pahlawan 10 November 1961 yang berbunyi: “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya”. Maka dari itu, untuk menghormati jasa-jasa Ki Hajar dewantara terhadap dunia pendidikan Indonesia, pemerintah Indonesia menetapkan tanggal kelahirannya sebagai Hari Pendidikan Nasional yaitu di tanggal 02 Mei pada tiap tahunnya.
Bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional pada tanggal 02 Mei 2016, Bentang Pustaka bekerjasama dengan Forum Taman Baca Masyarakat (FTBM) DIY serta jurusan Pendidikan Luar Sekolah (PLS) UNY mengadakan talkshow bertajuk “Fundrising Kreatif untuk Lembaga Nirlaba”. Menghadirkan pembicara Andri Rizki Putra (penulis buku Orang Jujur Tidak Sekolah). Acara ini diselenggarakan di Ruang Abdullah Sigit FIP UNY yang dimulai pada pukul 08.00 – 10.30 WIB. Acara tersebut di hadiri oleh tim bentang pustaka, perwakilan dari beberapa Forum Taman Baca Masyarakat (FTBM) se-DIY, serta para mahasiswa baik dari UNY maupun Non UNY. Acara ini di awali dengan pembukaan, kemudian pemaparan persentasi dari pembicara yaitu Andri Rizki Putra. Berikut ini adalah risalah dari acara tersebut.
Andri Rizki Putra atau yang biasa dipanggil Rizki adalah founder dari Yayasan Pemimpin Anak Bangsa. Dulunya dia adalah seorang anak yang memutuskan untuk berhenti sekolah atau tidak meneruskan pendidikan formal pada bangku SMA. Hal itu dilakukan Rizki karena kekecewaannya dengan sistem pendidikan yang ada di Indonesia. Rizki yang awalnya menaruh harapan besar kepada sekolah yang mampu mengajarkan banyak hal, seketika patah hati. Pada waktu SMP, Rizki merasakan adanya kecurangan pada Ujian Nasional (UN). Pada hari pertama Ujian Nasional telah beredar lembar contekan jawaban ujian di kalangan siswa. Kemudian Rizki mencoba melaporkan kejadian tersebut kepada pihak sekolah atas kejadian tersebut. Akan tetapi dari pihak sekolah malah menyuruh Rizki untuk diam dan membiarkan hal tersebut terjadi. Rizki berpikir, hal itu jelas akan dilakukan oleh pihak sekolah karena untuk menjaga kredibilitas sekolah yang merupakan salah satu sekolah unggulan di Jakarta. Namun bagi Rizki hal tersebut tetaplah salah, dan telah menciderai esensi dari pendidikan yang sesungguhnya. Idealisme Rizki mengatakan bahwa Ujian Nasional adalah sesuatu yang sakral dan penuh akan syarat kejujuran. Karena merasa tidak puas dengan respon yang diberikan oleh pihak sekolah, Rizki kemudian melaporkan hal tersebut ke KPK. Akan tetapi Rizki tetap saja mendapat jawaban yang tidak memuaskan, pihak KPK tidak bisa bertindak lebih lanjut karena terkait otoritas sekolah. Rizki beranggapan bahwa kecurangan tersebut memang benar-benar sangat sistematis dan sangat sulit untuk diberi tindak lanjut. Selain dari kecurangan tersebut, Rizki yang berasal dari keluarga yang kurang mampu sering diperlakukan tidak adil dan nyaris menjadi sindiran para guru tiap pengambilan rapor tiba. Hal itu dikarenakan Rizki yang selalu terlambat atau menunggak membayar SPP tiap bulannya.
Rizki memutuskan untuk berhenti sekolah di jenjang SMA, karena pengalaman panjangnya yang menjadi objek sistem pendidikan yang diskriminatif dan tidak jujur. Rizki kemudian menempuh pendidikan nonformal (pendidikan keseteraan). Sikap yang diambil Rizki jelas mendapat banyak sindiran dari berbagai pihak. Yang sangat menyakitkan bagi Rizki adalah sindiran orang-orang yang ditujukan kepada ibunya karena dianggap tidak bisa mendidik anaknya dengan benar. Terlebih lagi Rizki adalah anak dari keluarga yang broken home sehingga masalah tersebut terasa benar-benar sangat berat. Namun ibunya tidak berpikiran seperti itu, dia malah mendukung segala keputusan Rizki asalkan hal itu memang berdasarkan kebenarannya. Lewat jalur ujian kesetaraan, Rizki mampu menamatkan SMA dalam waktu satu tahun. Bahkan Rizki dapat diterima masuk kuliah di PTN terkemuka di Indonesia yaitu Universitas Indonesia bagian Fakultas Hukum. Rizki mampu membuktikan walaupun ijazah yang dia dapatkan berasal dari pendidikan kesetaraan, ternyata mampu bersaing dengan anak-anak yang berasal dari pendidikan formal. Rizki beranggapan bahwa kemampuan seseorang sesungguhnya tidak bisa hanya diukur dari ijazah yang dia miliki.
Semasa kuliah Rizki aktif di kegiatan penelitian kampus, perlombaan debat, dan mengajar mereka yang putus sekolah. Ia mendapat predikat Juara 3 Mahasiswa Berprestasi Tingkat FHUI, peraih predikat cum laude (lulusan terbaik), salah satu lulusan termuda, dan menjadi mahasiswa tercepat yang menyelesaikan perkuliahannya (dalam waktu 6 semester). Selepas menjadi mahasiswa S1, Rizki kemudian mewujudkan cita-citanya membangun Yayasan Pemimpin Anak Bangsa. Yayasan Pemimpin Anak Bangsa adalah sebuah wadah pendidikan non formal (pendidikan kesetaraan) yang ditujukan kepada mereka yang putus sekolah dan ingin melanjutkan pendidikannya tanpa batas usia, dan pekerjaan secara gratis untuk siapapun.
Yayasan Pemimpin Anak Bangsa yang sekarang sudah besar, dulunya menyimpan berbagai kenangan pahit hingga sampai dititik sekarang. Dahulu untuk mengajak masyarakat yang putus sekolah untuk meneruskan sekolahnya sangat sulit. Bahkan sampai Rizki sendiri yang menjemput para siswanya tersebut. Mindset masyarakat yang lebih mengagungkan bantuan materiil dibanding pendidikan salah satu faktor penghambat adanya siswa yang datang. Mereka lebih memilih bekerja dibandingkan sekolah yang tidak bisa menghasilkan makanan untuk dimakan. Namun karena kegigihan Rizki yang tetap bertahan dan konsistensi menjalani hal tersebut. Pada akhirnya para siswa yang ingin belajar lama-lama menjadi banyak, bahkan sekarang sampai bisa menolak siswa karena keterbatasan kuota. Selain itu, dulu Yayasan Pemimpin Anak Bangsa ini tidak memiliki tempat yang dianggap layak untuk digunakan pembelajaran. Namun pada akhirnya banyak mitra yang tertarik dengan organisasi tersebut dan tergerak hatinya untuk menjadi Fundraising pengembangan Yayasan Pemimpin Anak Bangsa. Hal itu dikarenakan juga, Yayasan Peminpin Anak Bangsa yang sangat menjaga kepercayaan dari para mitra, sehingga dari kepercayaan tersebut para mitra berencana untuk terus melanjutkan kemitraan. Dari kemitraan inilah yang mengantarkan Yayasan Pemimpin Anak Bangsa memiliki banyak link Fundraising karena lingkaran kemitraan tersebut
Yayasan Pemimpin Anak bangsa memiliki tutor yang berasal dari para relawan, yang berarti para pengajar disitu tidak digaji. Mereka bersedia mengajar tanpa digaji berdasarkan kerelaannya sendiri-sendiri. Para tutor di Yayasan Pemimpin Anak Bangsa adalah tutor-tutor yang tidak berasal dari baground pendidikan, rata-rata mereka adalah pekerja yang berasal dari profesi yang berbeda-beda. Namun hal itu menjadi poin plus pada pembelajaran di Yayasan Pemimpin Anak Bangsa, karena para tutor memberikan pembelajaran yang kontekstual. Setiap ilmu yang di ajarkan selalu dikaitkan dengan kegunaanya pada kehidupan sehari-hari dan kegunaan pada pekerjaan tertentu (best practice). Yayasan Pemimpin anak Bangsa juga tidak hanya mengajarkan ilmu-ilmu konkret akan tetapi juga melatih soft skill para siswanya. Sehingga dapat membentuk karakter siswa yang bagus. Maka tidak heran Yayasan Pemimpin Anak Bangsa mendapat kunjungan dari Menteri Pendidikan sekarang yatu bapak Anis Baswedan karena ranah kerjanya Yayasan Pemimpin Anak Bangsa sangat relevan dengan misi pendidikan sekarang yaitu generasi yang berkarakter unggul atau dikenal pembentukan karakter anak bangsa.
Yayasan Pemimpin Anak Bangsa adalah lembaga pendidikan nonformal yang sangat menjunjung tinggi kejujuran. Sehingga setiap diadakan ujian, para siswa tidak pernah di tunggui. Mereka mengambil soal dan lembar jawab sendiri kemudian mengerjakannya tanpa pengawasan. Akan tetapi setelah ujian tersebut selalu ada tes lisan untuk mengetes apakah nilai yang didapatkan benar berdasarkan kemampuannya atau tidak. Tes lisan atau wawancara ini juga dilakukan untuk seleksi penerimaan siswa di Yayasan Pemimpin Anak Bangsa. Saat ini Yayasan Pemimpin Anak Bangsa telah memiliki 3 cabang yaitu Yayasan Pemimpin Anak Bangsa di Tanah Abang, Yayasan Pemimpin Anak Bangsa di Bintaro, dan Yayasan Pemimpin Anak Bangsa di Medan. Untuk sekarang, Yayasan Pemimpin Anak Bangsa tidak berencana membuka cabang lagi, akan tetapi lebih memantapkan dan memperbaiki lagi sumber daya manusia yang ada. Namun cita-cita untuk memperluas penyetaraan pendidikan melalui program ini di berbagai pelosok Indonesia tetaplah ada, tapi untuk sekarang belum waktunya.
Peserta Talkshow


Komentar
Posting Komentar